Welcome here! Please leave your comment and follow my blog. Use CTRL+C to copy (no right click allowed)
This blog is full of tutorials. Please use them, by clicking the "STUFF" page above^^ Thanks for your visit!!
I'm Gifta, I can't online everyday /^-^\/>

Thank you for your visit, please use my tutorials...!
August 05, 2016

Friday, February 13, 2015

Dunia Mirip Bumi (2)

Dunia Mirip Bumi (2)
Cerita sebelumnya: Sisca dan Sebby, sahabatnya sedang berkemah di Salib Putih. Tetapi, pagi esoknya, yaitu hari Sabtu hujan deras mengguyur Salib Putih. Sisca malah kebelet kencing dan Sebby mengantarnya ke toilet. Ternyata, toilet yang dimasuki Sisca adalah pintu masuk menuju Dunia Bukan Bumi! Sebby mengetahuinya dan berteriak meminta tolong, namun tak ada yang mendengarnya!

Sebby ketakutan. Ia ingin berbalik menuju tenda, namun dirinya terasa kaku. Akhirnya, ia mengumpulkan keberanian dan memasuki toilet itu. Ketika pintu ditutup, toilet itu langsung menjadi hutan sepi yang terang.
            “Tolong, tolong! Apakah hutan ini berpenghuni?!” Suara teriakan itu sangat keras. Sebby mengenali suara itu. Itu suara Sisca! Sebby pun segera mencari sumber suara itu sambil berteriak, “Sisca! Sisca!” Sisca mendengar suara Sebby dan mencarinya. Dan akhirnya mereka pun bertemu.
            “Loh, Sebby? Kamu, kok, di sini, sih?” tanya Sisca.
            “Kamu tidak tahu, ya? Kamu itu masuk ke toilet menuju dunia ini!”
            “Hah …? Ini dunia yang dimaksud? Tapi, kan, ini bumi!” seru Sisca tak percaya.
            “Mau bumi atau ngga, yang penting, kita harus dapat keluar dari hutan ini dan menuju Salib Putih lagi! Ayo, cepat!” ajak Sebby. Lalu, Sebby segera berlari. Sisca pun mengikuti Sebby yang terus berlari tak tentu arah.
            “Groarrr!” Tiba-tiba terdengar suara singa. “Groarrr!” Suara singa itu terdengar lagi, sekarang lebih keras. Sisca yang sudah dekat dengan Sebby menjadi takut dan malah berbalik arah! Sebby pun mengejar Sisca.
            “Sisca! Kok, lari?! Sisca! Ayo, pulang!” teriak Sebby. Sisca mendengarnya, namun Sisca tetap berlari.
            Tiba-tiba, seekor singa bertanduk muncul dari balik semak belukar di dekat Sebby. Spontan, Sebby berteriak, “Aaarrggh!!!” Sisca yang mendengar teriakan itu memberanikan diri untuk menyelamatkan Sebby. Tetapi, terlambat. Sebby diseret oleh singa bertanduk itu dengan ekornya yang membelit tubuh Sebby.
            “Lepaskan temanku! Hey! Berhenti!” teriak Sisca. Jarak antara Sisca dan singa bertanduk itu kira-kira 5 meter. Namun Sisca tak menyerah untuk mengejar singa itu. Sampai akhirnya, tanpa disadari, Sisca sampai di tengah hutan.
            Ternyata, para penghuni hutan ini sedang mengadakan pertemuan! Dan singa bertanduk itu adalah pemimpinnya. Penghuni hutan ini berwujud aneh. Ada banteng berkepala kuda, gajah berbelai pendek, kelinci bertanduk tanpa mata, dan masih banyak lagi.
            “Groarrrr!!!” Singa bertanduk itu mengaum disusul auman hewan aneh lainnya. Setelah itu, Sebby diletakkan di tanah. Cakar singa bertanduk yang tajam itu mulai mengangkat. Sepertinya … ia hendak mencabik-cabik Sebby! Sebby ketakutan. Keringat dingin bercucuran di kulit Sebby.
            Tetapi, tiba-tiba … “Ciattt!!!” Seseorang melompat tinggi dan menusukkan sebilah bambu ke tubuh singa itu. “Groarr!” Darah segar bercucuran keluar dari tubuh singa itu dan singa itu terjatuh. Ia meraung-raung kesakitan. Melihat hal itu, hewan lainnya lari tunggang langgang. Dan … Orang itu adalah Sisca!
            “Sisca …? Terima kasih! Kok, kamu, bisa sempat ambil bambu saat aku sedang dalam keadaan begini?” ucap Sebby sembari memeluk sahabatnya itu.
            “Hehe … Tadi ada bambu tajam di dekat pohon besar saat aku berlari, jadi, aku ambil saja. Lumayan untuk membuart Raja Hutan itu meraung-raung,” jawab Sisca sembari menunjuk si singa.
            “Kamu memang sahabat sejatiku!” Sebby memeluk Sisca lagi.
            “Sudah, ah! Kita balik ke Salib Putih, yuk!” ajak Sisca seraya menarik tangan Sebby.
            Tetapi, Sebby malah melepas genggaman tangan Sisca dan berkata, “Jangan sekarang! Aku suka di sini! Kita bisa berpetualang dan menjadi anak terkenal di sekolah nanti! Tapi, kalau kita menceritakan pengalaman ini pada teman-tema,” serunya.
            “Hah …?! Suka? Berpetualang? Jadi anak terkenal? Apa-apaan kamu ini?! Kamu ngga sadar, ya, takdirmu hampir menjemput kamu tadi?! Untung ada aku!” marah Sisca tidak puas dengan jawaban Sebby.
            “Memangnya kenapa? Ngga boleh, ya, aku jadi anak terkenal di sekolah? Kenapa, hah?! Sudah, ah! Aku mau di sini dulu! Lagipula, ini, kan Bumi! Nanti juga bisa balik ke Salib Putih,” jawab Sebby marah.
            “Boleh saja! Tapi, jangan berpetualang di sini! Di tempat lain! Atau kita, kan, bisa berbohong?!” Sisca membentak sahabatnya itu.
            “Berbohong? Itu berdosa, Sisca! Kita harus benar-benar berpetualang! Aku benci bohong! Dasar penakut!” bentak Sebby tak mau kalah.
            Perdebatan tentang petualangan dan menjadi terkenal memakan waktu cukup lama.
            Tetapi, akhirnya Sebby mengalah. “Sudah, ah! Aku di sini, kamu pulang saja! Buang waktu! Aku mau menjelajahi hutan dahulu!” seru Sebby seraya berlari.
            Dengan wajah memerah karena marah, Sisca berteriak membalas, “Baiklah! Terserah kamu saja, deh!” Ia pun mengejar Sebby. “Sebby!” teriak Sisca.
            BRUK!
            Tiba-tiba Sebby berhenti berlari. Ia mendongak ke atas. Mulutnya menganga. Sisca pun menabrak Sebby.
            “Heh! Kok, kamu berhenti ….” Belum selesai Sisca berbicara, Sebby sudah menutup mulutnya dan menunjuk ke atas. “Lihat itu!” kata Sebby senang. “Wah, itu kan …”

BERSAMBUNG

Hmm … Apa, ya, yang dilihat oleh mereka? Apakah pohon apel raksasa? Atau pohon anggur beracun? Mau tahu? Tunggu kelanjutannya di Dunia Mirip Bumi (3)
           
           


There are 6 comments.
Please post another comment..