Welcome here! Please leave your comment and follow my blog. Use CTRL+C to copy (no right click allowed)
This blog is full of tutorials. Please use them, by clicking the "STUFF" page above^^ Thanks for your visit!!
I'm Gifta, I can't online everyday /^-^\/>

Thank you for your visit, please use my tutorials...!
August 05, 2016

Saturday, March 28, 2015

Dunia Mirip Bumi (3)

STORY BY GIFTA
PLEASE READ MORE!

Dunia Mirip Bumi (3)
Cerita sebelumnya: Sebby memutuskan untuk masuk ke dalam DUNIA BUKAN BUMI itu. Sesampainya di sana, Sebby bertemu dengan Sisca. Lalu, Sebby hampir saja dilahap oleh para hewan aneh penghuni hutan di dunia itu. Beruntung, Sisca menyelamatkan Sebby. Kemudian, Sebby yang tadinya ingin pulang ke Salib Putih malah ingin berpetualang di hutan itu! Sisca dan Sebby bertengkar. Yang satu ingin pulang, tetapi satunya lagi ingin berpetualang di situ. Akhirnya, Sisca pasrah dan mengikuti Sebby. Tiba-tiba Sebby berhenti berlari dan mereka melihat …
Sisca dan Sebby menganga. Wajah mereka menunjukkan kegembiraan. Kalian tahu apa yang mereka lihat? Mereka melihat …
            SEBUAH KAKTUS MERAH!
            Ya, saat ini, memang sedang banyak gosip tentang tanaman kaktus merah. Banyak yang mencari dan ingin menjualnya, namun tidak ada satupun orang yang berhasil. Tentu saja, karena tanaman kaktus merah itu hanya ada 1 di Bumi. Penanam bibit kaktus merah di Bumi adalah Alien Ceroboh yang menjatuhkan bibit kaktus merah.Tanaman yang lainnya ada di Dunia Mirip Bumi (nama sebuah planet di cerita ini ^
v ^ Planet ini yang sekarang dikunjungi oleh Sebby dan Sisca).
            Gosip itu dimulai ketika seseorang mengaku bahwa ia melihat tanaman kaktus berwarna merah. Ternyata, orang berkelamin laki-laki itu juga mengambil potret tanaman kaktus merah. Pria itu mengatakan bahwa saat itu ia sedang dalam perjalanan menuju desa terpencil. Pria itu melewati jalan pintas untuk cepat sampai ke desa tersebut. Tiba-tiba, ia melihat sebuah kaktus berwarna merah. Kaktus itu berukuran kecil. Dan tanaman yang dilihat oleh Sisca dan Sebby ini sama persis dengan gambar kaktus merah di foto pria itu. Foto kaktus merah pria itu ada di koran-koran juga majalah anak.
            Sebby dan Sisca berebut untuk mengambilnya. Mereka ingin menjual kaktus tersebut bila sudah sampai di rumah nanti. “Punyaku!”.”Punyaku!”.”Punyaku! Kan, aku yang menemukan!”.”Punyaku! Bukan punyamu!” Mereka terus berebut hingga akhirnya Sisca memberi usul. “Lebih baik, kaktus yang ini kita biarkan saja. Nanti kalau ada kaktus merah lagi, baru diambil.” Sebby pun setuju.
            Mereka terus berjalan, hingga akhirnya matahari mulai terbenam. Sekarang, jam tangan Sisca menunjukkan pukul 17.45. Mereka mulai merasa lapar. Tadi saat siang, mereka memang tidak makan. Siang tadi mereka sudah mencari-cari pohon yang berbuah. Tetapi, ternyata tidak ada.
            “Aduhh. …! Nanti maagku kambuh, nih!” cemas Sebby seraya mengelus perutnya.
            “Ya sudah, kita cari pohon berbuah dulu, yuk!” ajak Sisca.
            Setengah jam telah berlalu. Langit juga semakin gelap. Namun, mereka tidak menemukan pohon yang berbuah satu pun! Perut Sebby sudah mulai sakit. Tetapi, Sebby berusaha menahannya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk beristirahat dahulu sebentar. Sekitar 10 menit kemudian, mereka mencari makanan lagi.
            Setelah 20 menit, akhirnya mereka menemukan pohon apel. “Lumayan untuk mengisi perut yang mengemis minta makan!” seru Sebby seraya memanjat pohon dan mengambil banyak apel. Sisca tidak ikut memanjat karena dia memang tidak dapat memanjat pohon. Setelah itu, mereka makan dengan lahap sembari bersandar di pohon apel itu. Sebby menyantap 7 apel, sedangkan Sisca hanya melahap 5 buah apel.
            “Aku sudah kenyang! Aku juga kantuk, nih! Kita tidur, yuk! Hoammm,” ajak Sebby sembari menguap.
            “Eh, Seb, kita mau tidur di mana, nih? Kan, kita gak bawa apa-apa!” tukas Sisca.
            “Oh iya, aku lupa! Eh … eh … kita tidurnya …” Sebby tak melanjutkan kata-katanya. Ia berpikir sejenak. “Aha! Kita tidur sambil sandaran ke pohon apel ini aja!” usul Sebby seraya menepuk pohon apel itu dengan pelan.
            “Ide yang bagus! Tapi … kalau pohonnya ada semutnya gimana?”
            “Ishh ... Kamu itu banyak pertanyaan! Sudah, ah! Aku mau tidur saja! Hoammm.” Sebby segera bersandar pada pohon apel dan dalam sekejap sudah tertidur.
            Namun, Sisca belum tidur. Ia tidak bisa tidur. Setiap kali matanya terpejam, muncul pemikiran tentang pohon yang digunakannya bersandar. “Uuhh ... Ini benar – benar menyebalkan! Apa, sih, maksud dari semua ini?!” marah Sisca. “Kenapa toilet itu mengantarku ke sini?! Benar – benar menyebalkan! Sebal …!”
            Setelah mengucapkan hal itu, tiba – tiba langit menjadi terang. Dan muncullah sosok perempuan berambut panjang yang bermata sipit namun cantik. Sisca mengira bahwa itu mamanya. Sebab, perempuan itu mirip dengan mamanya. Sisca sangat terkejut. Ia pun berlari menuju perempuan itu sembari berteriak, “Mama! Kok …” Belum selesai Sisca berbicara, perempuan itu sudah menutup mulut Sisca dengan tangannya. “Sst …” bisik perempuan itu. ”Aku bukan mama kamu! Aku tak punya anak!” ketus perempuan itu. Matanya menatap Sisca dengan tajam.
            “Hey! Kamu siapa?!” teriak Sisca akhirnya.
            “Bisakah kamu menutup mulutmu untuk 5 menit saja?!” ketus perempuan itu lagi. Tatapannya menjadi tajam lagi. Sisca hanya mengangguk – angguk pelan. Lalu perempuan itu bersembunyi dibalik semak belukar yang tinggi. Sisca semakin heran. Akhirnya, ia ikut bersembunyi.
            Tiba – tiba …
            “Delnisia! Dimana kamu?! Cepat keluar dari persembunyianmu!” Sebuah suara menggelegar di langit. Langit kembali terang. Lalu, seorang laki - laki gagah turun ke permukaan tanah.
            Sisca kebingungan melihat semua penampakan ini, alisnya terangkat satu. Apa artinya semua ini? Siapa mereka? Sisca menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alisnya masih terangkat.
            “Hei! Kamu siapa?” Sisca memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Perempuan bermata sipit itu menggelengkan kepalanya. Ia kesal dengan perbuatan Sisca.
            “Kamu siapa?” Laki – laki itu malah balik bertanya.
            “Aku Sisca!” jawab Sisca nyaring namun lembut.
            “Jadi, kamu belum tahu siapa aku ini, ya?!” tanya laki – laki itu seraya berjalan mendekati Sisca. Namun Sisca malah semakin maju dan menjawab dengan berani, “Ya! Aku belum tahu identitasmu!”
            “Oh, jadi kamu yang namanya manusia penghuni Bumi, ya? Hahaha! Aku adalah …….”
BERSAMBUNG
MAU TAHU SIAPA SEBENARNYA LAKI – LAKI ITU? TUNGGU SAJA KELANJUTANNYA DI Dunia Mirip Bumi (4)




No comments

Post a Comment