Friday, June 26, 2015

Dunia Mirip Bumi (4)

Hai, Gifta kembali dengan cerita Dunia Mirip Bumi lho! Mau tau? Yuk, read more!
Dunia Mirip Bumi (4)

Cerita sebelumnya: Sisca dan Sebby menemukan kaktus merah. Mereka ingin menjualnya di Bumi saat sudah pukan. Sayangnya, mereka hanya menemukan 1 tanaman. Mereka pun bertengkar untuk mendapatkan tanaman itu. Akhirnya, Sisca memberi usul untuk meninggalkan kaktus merah itu dan mencari yang lainnya, kalau mereka menemukan yang lain baru diambil. Menjelang malam, mereka lapar. Lalu mereka menemukan pohon apel dan mereka pun memakan buah apel. Setelah makan, Sebby tidur, sedangkan Sisca tidak bisa tidur. Sisca terus mengomel. Tiba-tiba perempuan bermata sipit dan berambut panjang muncul. Tak lama, sebuah suara menggelegar di langit, lalu muncul seorang laki-laki gagah.

Perempuan itu langsung menyuruh Sisca bersembunyi bersamanya di balik semak belukar yang tinggi. Sisca menurut.
            “Delnisia! Dimana kamu?! Cepat keluar dari persembunyianmu!” teriak laki-laki gagah itu, memanggil seseorang.
            Sisca kebingungan melihat semua ini, alisnya terangkat satu. Apa artinya semua ini? Siapa mereka? Sisca menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alisnya masih terangkat.
            “Hei! Kamu siapa?” Akhirnya, Sisca memberanikan diri keluar dari semak belukar persembunyiannya. Perempuan bermata sipit itu menggelengkan kepalanya. Ia kesal dengan perbuatan Sisca, tapi tak berdiri menghentikan Sisca.
            “Kamu siapa?” Laki – laki itu malah balik bertanya.
            “Aku Sisca!”
            “Jadi, kamu belum tahu siapa aku ini, ya?!” tanya laki – laki itu seraya berjalan mendekati Sisca. Namun Sisca malah semakin maju dan menjawab dengan berani, “Ya! Aku belum tahu identitasmu!”
            “Oh, belum tahu, ya! Sebelumnya, aku mau tanya, jadi kamu yang namanya manusia? Hahaha! Aku adalah Steverinus, Raja Negeri Peri! Di sini aku mencari seseorang,” jawab laki-laki gagah itu yang ternyata adalah seorang raja.
            “Seseorang?! Siapa?” Alis Sisca terangkat satu lagi.
            “Jangan pura-pura tidak tahu! Aku tahu kamu bersamanya! Sekarang beri tahu aku, di mana dia!!!”
            “Dia siapa?! Aku benar-benar tidak tahu!”
            “Huh …!  Jangan bohong, ya! Aku yakin, kamu pasti tahu di mana Delnisia!”
            Raja macam apa ini? Jelas-jelas aku tidak tahu, tetap saja ditanya. Dan lagi-lagi, dia menyebut nama itu! pikir Sisca bingung.
            “Aku benar-benar tidak tahu! Bahkan, aku tidak tahu siapa itu Delnisia!” marah Sisca.
            “Oh, ya??? Lalu, mengapa kamu berada di balik semak belukar yang tinggi itu saat aku muncul?” selidik Raja Steverinus sembari menunjuk semak belukar tempat persembunyian Sisca dan perempuan bermata sipit itu tadi.
            “Oh, itu … Aku diajak bersembunyi oleh perempuan bermata sipit!” jawab Sisca dengan santai. Perempuan bermata sipit itu menganga sembari menepuk dahi dan menggelengkan kepalanya.
            “Oh … Terima kasih informasinya! Dia Delnisia yang kucari-cari!” ucap Raja Steverinus sambil berjalan menuju semak belukar yang tinggi itu.
            Sisca masih belum sadar bahwa ia salah, seharusnya Sisca tidak memberitahukan alasan ia bersembunyi. “Sama-sama!” jawab Sisca sembari tersenyum.
            Setelah menemukan perempuan bermata sipit yang ternyata Delnisia, Raja Steverinus berkata, “Ayo, Delnisia! Kau kira aku tidak dapat menemukanmu? Gadis kecil yang itu memberitahuku.”
            Saat Delnisia berjalan bersama Raja Steverinus, ia menoleh dan melotot pada Sisca. Saat itu juga, Sisca baru sadar bahwa ia salah. Sisca langsung berteriak, “Hey! Memangnya kenapa kamu sangat ingin membawa Delnisia?”
            Raja Steverinus berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Sisca. “Jadi, begitu caramu berbicara pada Raja Steverinus dari Negeri Peri?! Huh! Dan, alasan aku membawa Delnisia adalah … karena dia sudah memecahkan vas bunga!”
            “Vas bunga? Karena vas bunga?”
            “Ya, Delnisia memecahkan vas bunga kebanggaan Negeri Peri! Sudah, jangan banyak tanya dan jangan mencampuri urusanku!”
            Setelah mengucapkan hal itu, langit menjadi sangat terang, dan ketika cahaya terang di langit itu meredup dan menghilang, Raja Steverinus dan Delnisia sudah tidak ada.
            Sisca sangat bingung dan mulai takut. Suara kelelawar dan burung hantu mulai terdengar. Sisca segera duduk bersandar di pohon tempat Sebby tidur. Tak lama kemudian, Sisca sudah tertidur.
            Keesokan paginya, pukul 06.00, Sisca terbangun. Dan anehnya, Sisca berada di tenda di Salib Putih! Sisca sangat terkejut. “Hah? Loh, kok aku di sini?”
            “Mengapa di sini? Kamu lupa kita sedang berkemah?” tanya Sebby sambil tertawa.
            “Loh, kan kemarin aku … di … di …” Sisca tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Mikaila memotong pembicaraan mereka.
            “Di mana? Di rumah? Mimpimu mungkin! Hihihi …,” ejek Mikaila yang ternyata mendengarkan percakapan Sisca dan Sebby.
            Sisca hanya terdiam. Ia menaikkan satu alisnya sambil melongo. “Sudah jangan pura-pura kaget! Kita sudah dipanggil untuk berkumpul oleh Pak Kris!” kata Sebby.
            Sisca mengikuti teman sekelompoknya berkumpul. Tapi Sisca masih bingung. Ia merasa kejadian di Dunia Mirip Bumi itu bukan mimpi. Semua yang terjadi di Dunia Mirip Bumi tidak seperti mimpi. Jadi sebenarnya Sisca benar - benar ke Dunia Mirip Bumi atau tidak? Itulah yang menjadi pertanyaan besar bagi Sisca. Dan seseorang mengetahui jawabannya. Seseorang yang selalu mengawasi Sisca. Dan siapa orang itu?  Dia adalah …

TAMAT 

There are 8 comments.
Please post another comment..

  1. aduh,harusnya bersambung bukannya tamat...(kalo enggak akan muncul tanda tanya besar di kepalaku)

    ReplyDelete
  2. gifta.. ceritamu keren! oh ya, kalo boleh tanya kamu kelas berapa? rumahmu dimana? ehm. agamamu apa? udah dulu ya.. bintang lima buat ceritamu. good luck!

    ReplyDelete