Beauty Beauty - Stefani Gifta Ganda's Blog

Senin, 04 Mei 2020

Burung untuk Topi Kakek

Masa-masa kayak gini, di rumah terus, tapi aku ngga ngepost, padahal ngga ada kerjaan, hahah... Menyadari rasa malas yang udah kayak virus ini, hari ini aku mau bagiin cerita pendek yang aku buat sekitar tahun 2015 atau 2016. Sudah lama memang... Tapi, ngga usah lihat waktu dibuatnya, karena zaman-zaman itu imajinasiku lagi melejit-melejitnya, dan aku bikin banyak banget cerita.

Burung untuk Topi Kakek


    Kakekku adalah orang yang pantang menyerah, rajin, dan tekun. Namun, ia tak pernah bisa bersyukur atas apa yang telah ia peroleh. Ia selalu berdoa untuk meminta lebih. Padahal, Kakek adalah orang yang kaya. Sedangkan aku hanyalah orang sederhana. Namun, aku tak pernah mengeluh atas apa yang kuperoleh.

    Umur Kakek sudah 60 tahun lebih. Rambut, kumis, dan alisnya pun sudah mulai memutih. Namun, sampai sekarang pun Kakek masih bekerja. Ia berjualan topi di sebuah mal yang ramai. Topinya memang sedikit polos, namun warnanya indah. Harganya pun terbilang murah. Bahkan mungkin, topi yang dijual Kakek itu adalah topi paling murah yang pernah ada. 
  
    Namun, sejak beberapa bulan yang lalu, toko Kakek semakin sepi. Ia pun berinisiatif untuk membuat topi bermotif. Ia memberi topi-topinya stiker atau bordir. Ia juga mau menerima permintaan pelanggan yang ingin topinya didesain sesuai keinginan. Toko Kakek pun kembali ramai. 
  
    Suatu hari, ada pasangan kakek dan nenek yang meminta suatu hal yang tak biasa. Mereka meminta dibuatkan dua topi hitam dengan bordir gambar burung dengan hiasan bulu burung asli dalam tiga minggu. Kakek dibayar mahal untuk permintaan tersebut. Karena diberi uang yang melimpah, Kakek bersedia memenuhi permintaan mereka, meski permintaan mereka sangat unik dan sulit. 
  
    Kakek mulai mencari bulu burung di taman kota. Setelah beberapa hari, ia akhirnya menemukan dua helai bulu burung berwarna putih yang sangat indah. Namun, Kakek malah membuangnya. “Ah, bulu ini hanya berwarna putih biasa! Tidak istimewa! Aku harus cari yang memiliki gradasi!” pikir kakek.

    ”Hmm… Tapi, di mana lagi aku harus mencari bulu burung istimewa yang benar-benar asli, ya?” Kakek kebingungan.
    “Di depan rumah jarang ada bulu berjatuhan. Apa aku minta Jolice untuk bantu mencari, ya?”

    Keesokan paginya, kakek datang ke rumahku sebelum mal dibuka. 
    “Lice, Jolice, bisakah kamu bantu kakek mencari bulu burung istimewa di sekitar sini?” tanya Kakek memohon pada anaknya, Ibuku.
    “Bisa saja, kok, Yah!” jawab Ibu.
    “Namun, di mana sebaiknya kita mencari?” timpal Ayah.
    “Bagaimana kalau mencari di sekitar sekolahku, di sekitar rumah, atau di sekitar kantor Ayah?” usulku.
    “Ide bagus!” seru Kakek bahagia. 
  
    Sejak itu, kita semua mulai meneliti setiap jalan yang kita lalui, berharap menemukan bulu burung yang memiliki gradasi warna. Tentu sulit untuk mencari yang seperti itu, karena biasanya, yang kutemui adalah bulu berwarna hitam legam atau coklat muda. 
  
    “Kring… kringgg…” Telepon Kakek berbunyi di suatu siang yang cerah di mal. Ternyata yang menelpon adalah pasangan tua yang telah lelah menunggu topi mereka. Mereka marah-marah dan hendak membatalkan permintaan. Kakek sangat terkejut, tidak sadar tiga minggu telah berlalu. Ia pun berusaha mencegah mereka. “Baiklah, kami beri perpanjangan tiga hari! Kami akan pergi ke pantai sepuluh hari lagi! Harap cepat dibuat!” bentak suami dari pasangan tua itu. Lalu, mereka menutup telepon. Kakek menghela napas, lega dan khawatir. Tiga hari tidak akan cukup untuk menemukan bulu istimewa. 
  
    Tiga hari berlalu begitu cepat. Pasangan tua itu menemui kakek di mal. Mereka marah-marah. “Saya sudah menunggu-nunggu! Mana topi kami? Kalau tidak ada bulunya tidak apa, setidaknya ada bordir burungnya!” bentak nenek dari pasangan itu.
“Ma.. maaf… Bahkan bordirnya saja belum saya kerjakan!” jawab Kakek takut-takut. “Apa? Kalau begitu kembalikan uang kami! Akan kami belikan topi di tempat lain!” kata nenek itu. Dengan terpaksa, Kakek membuka laci penyimpanan uangnya dan mengembalikan sejumlah uang ke si nenek. Nenek itu merebut dengan kasar, lalu melenggang pergi bersama suaminya. Kakek sangat sedih. Bahkan, ia sebenarnya lupa bahwa topi itu harus diberi bordir burung.

    Sejak hari itu, di depan rumah Kakek, sering muncul helaian bulu burung berwarna putih yang indah. Setiap hari, Kakek harus teringat akan kejadian yang membuatnya mengembalikan uang untuk pertama kalinya. Kakek menyesal karena dulu ia membuang dua bulu putih yang indah itu.

TAMAT

Nah, gimana ceritanya, guys?
Kuakui diksinya memang ngga terlalu bagus, hehe...
Btw, kalian bisa baca juga karya-karyaku yang lain di sini.

There are 4 komentar.