Beauty Beauty - Stefani Gifta Ganda's Blog

Selasa, 23 Juni 2020

Kenapa Kita Kerja, Mati, dan Sakit?

Baru-baru ini aku nemu cerita pendek interesan. Yang bikin menarik adalah pesan di dalam cerita religius ini. 
Mengapa Allah menciptakan pekerjaan, (lalu) kematian, (lalu) penyakit?

Work, Death, and Sickness (1903) adalah salah satu cerita pendek yang ditulis Leo Tolstoy.

Ide ceritanya tidak murni milik Tolstoy. Cerita ini adalah legenda yang dibuat penduduk asli Amerika Selatan.

Ringkasan


Tokoh di dalam kisah ini cuma Allah dan semua orang di dunia. 

Jadi, dikisahkan bahwa Allah pada awalnya menciptakan manusia tanpa perlu bekerja, tanpa butuh rumah, pakaian, makanan, dan mereka semua hidup sampai seratus tahun, dan tidak pernah sakit.

Tapi, bukannya menikmati hidup seperti yang Allah inginkan, manusia malah sering bertengkar dan cuma mikirin diri sendiri.

Karena itu, Allah menciptakan pekerjaan. Allah berharap manusia akan gotong royong untuk menyelesaikannya.

Sayangnya, cara itu ngga berhasil. Jauh dari hidup bahagia, manusia alih-alih mempersulit hidup dengan membentuk kelompok-kelompok dan bersaing.

Maka, sekarang Allah mengumumkan kalau manusia bisa meninggal kapanpun. 

Tujuannya supaya manusia ngga lagi hidup untuk melindungi hasil kerjanya (uang, makanan, dan barang-barang duniawi lainnya), tapi membuat hidupnya lebih bermakna dan bahagia.

Dan, tepat sekali, cara ini juga gagal. Kematian dipakai untuk mengancam dan memperbudak mereka yang lebih lemah. Semua orang saling membenci dan takut pada satu sama lain.

Bahkan, manusia malah jadi merasa punya kuasa atas hidup dan matinya seseorang. Mereka mulai mengenal bunuh-membunuh.

Akhirnya, Allah mengeluarkan senjata terakhirnya. Penyakit.

Alangkah sangat terduga, manusia malah menjauhi sesama yang sakit, tidak membantu dan menghibur.

Mereka malah mendirikan rumah untuk para penderita supaya mereka yang sakit tidak mengganggu yang sehat. Orang sehat yang miskin ditugasi menjadi dokter dan suster untuk merawat.

Putus asa, Allah pun pasrah dan tidak lagi berusaha menyadarkan manusia akan kebahagiaan dalam kehidupan.

Setelah lama hidup, generasi ke generasi berikutnya, sedikit manusia akhirnya baru mulai menyadari bahwa pekerjaan, kematian, dan penyakit ditujukan untuk menyatukan manusia dalam cinta.

Jadi,


Itu tadi pemendekan cerita pendek Tolstoy. Cerita yang mengerikan, tapi di sisi lain sangat akurat.

Manusia memang sudah dari sono egois, ingin menang sendiri (gengsi), serakah, dan malas.

Allah ingin kita untuk hidup senang. Caranya senang gimana? Tentunya dengan mencintai sesama, bersatu, dan saling bahu-membahu, bukan saling menindas, apalagi berperang dan berkompetisi.
Pekerjaan, kematian, dan penyakit itu bukan bukti kekejaman Allah, tapi cara-Nya mengajarkan arti hidup dan kebahagiaan kepada kita semua.

Tidak ada komentar

Feel free to post a comment :)