Stefani Gifta Ganda's Blog

Jumat, 09 Juli 2021

Review Buku: "Manifesto Flora" karya Cyntha Hariadi

(di-copy dari review di Goodreads)
Aku kenal gaya bercerita yang seperti ini. Gaya yang "benar-benar berkata-kata" (aku setuju dengan Seno Gumira Ajidarma) di mana tingkat kedalaman dari "benar-benar" itu adalah 3/5.
Tambah 1 bintang, karena setelah baca terngiang-ngiang. Cerita-ceritanya sarat makna. Menurutku, setiap orang akan punya kisah favorit yang berbeda-beda.


SPOILER ALERT!
(baca bukunya di iPusnas dulu, deh! hehee)


Cerita I: "Bapa, Ini Aku Grata"
Bintang: 7/10

Dialognya unik dan ternyata mudah dipahami--mudah dimengerti bahwa itu flashback. Aku ragu untuk bilang paham dengan keseluruhan jalan cerita. Ada beberapa detail yang sepertinya simbolis, tetapi aku tidak menangkap maksudnya. Lalu, aku juga tidak tahu kenapa cerita ini ditaruh di awal.

Kalimat favoritku:
1. "Pandangan ibunya yang sedih berubah menjadi seringai di jiwa Grata yang kini goyah."
2. "Rumah dan pohon hanyut dalam air mata Grata sampai ia tak bisa melihatnya lagi."
3. "Dari kejauhan, Sapi mengikuti Grata dengan mata cemas, ember hijau menggantung di moncongnya."

Pertanyaanku:
1. Apa peran anjing yang dinamai Sapi itu?
2. Apakah memang ada seorang suster yang dengan gamblang menyebut orang lain dengan kata "ban**at"?


Cerita II: "Apa yang Kau Tunggu, Ny. Liem?"
Bintang: 9,1/10

Yang ini bagus!
Sederhana, tetapi mengena.

Kalimat favoritku:
"“ANAK GOBLOK! APA KALAU AKU JAHAT PADAMU, AKU BUKAN MAMAMU LAGI?!?”"


Cerita III: "Tuan dan Nyonya di Jl. Abadi"
Bintang: 9/10

Rasanya speechless setelah baca. Plot twist-nya menohok, seakan-akan aku merasakan jadi Nyonya sekaligus menjadi Titin. Penceritaannya kuat, dibangun perlahan-lahan. Waktu selesai baca, aku seolah-olah ditarik paksa dari dunia yang sedang kuselami dalam-dalam. Rasanya mengagetkan.

Kalimat favoritku:
(Tidak ada karena semua kalimat saling menyambung menjadi satu kesatuan.)


Cerita IV: "Mohon Tinggalkan Aku Sendiri"
Bintang: 9,2/10

Cerita tentang seorang Bapak yang pendiam, tetapi ternyata menyimpan banyak permata kata-kata.

Kalimat favoritku:
1. "To: Yolanda Handoyo, Miranda Beaumont, Guntur Asa" (Nama-namanya pun sudah bercerita sendiri.)
2. "Kau, yang segagah Freddie Mercury, ... Guntur kedengaran kekar dan merkurial."
3. "Aku lebih memilih mengalir, mengarungi sedangkan kau mengejutkan dan kadang menegangkan seperti namamu."
4. "Namun sekarang aku sendiri, menjauh dari kalian namun mendekati apa yang ditakdirkan sebagai titik akhir hidupku sejak aku lahir puluhan musim kemarau silam."


Cerita V & VI: "Amerika I" & "Amerika II"
Bintang: 8,1/10

Aku suka konsepnya. Semacam ironi.

Pertanyaanku:
1. Ceritanya berhubungan, kan, ya? (Semoga iya ....)


Cerita VII: "Bayang"
Bintang: 8,9/10

Sebenarnya aku suka, tetapi kurang menangkap maksudnya.

Kalimat favoritku:
(Semua, kecuali 3 paragraf terakhir)

Pertanyaanku:
1. Kenapa berakhir seperti itu?
2. Gimana maksud ending-nya?


Cerita VIII: "Melankolia"
Bintang: 9/10

Mungkin ini sudut pandang hewan paling "manusiawi" yang pernah kubaca. Mungkin sangat akurat, bisa saja sebaliknya. Namun, itu tidak penting--yang penting adalah bahwa cerita ini mampu membuat gemas tanpa harus menyentuh hewan yang sedang bercerita.

Kalimat favoritku:
1. "Tapi, tapi, tapi kau tak mengerti!"
2. "9. Rumput, terang, kau."

Pertanyaanku:
1. Apakah ada twist yang tidak kutangkap?


Cerita IX: "Manifesto Flora"
Bintang: 9,5/10

Di cerita ini, penggambaran dan deskripsinya sangat akurat. Tidak heran kalau dijadikan judul buku. Ini favoritku.

Kalimat favorit dari favoritku:
1. "Aku cuma mau kalau ia setuju keluarga kami kelak cuma punya satu telpon, yaitu telpon rumah."
2. "... lampu belajar yang redup adalah Flora yang malas hidup; ..."
3. "Aku sedang melaporkan situasi ulat bulu yang menyerang pohon kecapi dan rambutan di belakang rumah ketika Mahesa ..."
4. "... alangkah lucunya ...; alangkah lucunya ..."
5. "Sampai sekarang aku masih terkenang rambutan-rambutan berbulu merah beterbangan memecah udara, slo-mo, dan menggantung di atas meja makan, tidak jatuh, bagai sebuah instalasi seni karya besar peninggalan Mahesa, yang kemudian minggat dari rumah. Kami pun tidak pernah lagi berkumpul di meja makan."
6. "Setiap tik, ujung jarumnya menusuk dadaku, kemudian tok, jarumnya mengeluarkan air dari mataku."
7. "Aku injak-injak kakiku sendiri dan merasa kalau aku tidak berbicara dengan seseorang sekarang ini juga, aku bisa mati, ..."
8. "“Flo, Scrabble yuk.”"
9. "Flora memeluk Flora."
(Lo, aku merangkum ceritanya ....)


Cerita X: "Dari Terang Tiba-tiba Hujan"
Bintang: 9,2/10

Ini mirip "Mohon Tinggalkan Aku Sendiri", tetapi dengan bentuk penceritaan, sudut pandang, tokoh, dan kesimpulan yang sedikit berbeda. Bikin "Oh-- ... uh!" ketika menyadari maksud cerita ini.

Kalimat favoritku:
1. "Aku tahu kau akan datang, Jan, pakai pura-pura enggan segala."
2. "Ke­napa aku tak membiarkan mata kami beradu lebih lama, apa yang kutakuti?"
3. "Sebagian diri Bapak Wiranata berharap hujan akan melunturkan warna kulit Satya. Sebagian lagi berharap hujan akan mencuci hati tuanya yang kotor. Sisanya berharap hujan menyembunyikan air matanya yang turun tak terduga."


Cerita XI: "Rumah Batu Kali"
Bintang: 9,1/10

Singkat. Tidak ada dialog.
Ada jarak antarparagrafnya.
Bertema ketakutan akan kehilangan.

Kalimat favoritku:
"Ia tak menduga, bukan kemarau, bukan badai, bukan rayap atau kelalaian yang menghancurkan rumahnya."


Cerita XII: "Dokter Agnes"
Bintang: 8,9/10

Lebih film-is dari yang lain. Di awal sedikit kurang pas, tetapi terbayar oleh akhirannya.

Kalimat favoritku:
1. "Ditatap monyet dengan mata bagai manusia dan tahu bahwa monyet sedang tidak mengagumi kecantikannya, membuat Dokter Agnes mencintainya."
2. "Sedikit babi, sedikit badak, sedikit kuda. Kalau tapir adalah manusia, apakah ia ingin diubah menjadi babi, badak, atau kuda?"


Cerita XIII: "Dokter Arif"
Bintang: 6,7/10

Pertanyaanku:
1. Apa peran cerita ini?


Cerita XIV: "Bekas Teman Baikku"
Bintang: 8,5/10

Karakter kedua tokohnya bisa membekas. Mungkin yang ini butuh kata-kata seperti dalam "Dokter Agnes".

Kalimat favoritku:
1. "... dan Juliana mengulang-ulang cerita tentang membuat aneka kue bolu setiap pulang sekolah untuk menambah pesanan langganan ibunya, yang terus terang makin lama sangat membosankan dibaca."
2. "Di luar itu, ia setia pada hidup. Aku kagum padanya dan telat menyadari bahwa sesungguhnya aku tak terlalu peduli padanya."
3. "... berkata bahwa kalau saja aku tak kebanyakan berkhayal menjadi orang lain, aku bisa lebih konsentrasi pada pelajaran."
4. "Kepala asramaku, seorang biarawati muda dari Flores yang mudah sekali dikelabui ..."
5. "Kutunggu di Kedai Pak Sardi depan sekolah (sudah direnovasi, keren!!!) besok jam 11 siang. Kangen! Jul."
6. "Begitu banyaknya lelaki dan perempuan yang meludahiku, namun tak ada orang yang menamparku sekeras Juliana."

Pertanyaanku: (yang tidak butuh dijawab)
1. Siapa nama "aku"? (Maria-kah?)


Cerita XV: "Tante Tati dan Putrinya, Temanku"
Bintang: 8,5/10

Cerita yang hangat dan mengalir dengan mudah, terutama di tengah.

Kalimat favoritku:
1. "Ia cuma satu dari ratusan jambu merah kancing pentil yang berjatuhan dan berserakan di tanah."
2. "Ia juga tidak pernah mempertanyakan cinta karena cinta selalu diserukan kepadanya dari atap rumah yang kokoh itu. Tak ada tanda tanya, cuma tanda seru." (Wow.)
3. "Aku tak mengerti mengapa ia menganggap itu lucu."
4, dst. (semua kalimat setelah kalimat ketiga, termasuk:
?. "Ia celaka karena memiliki ayah yang sempurna, tak pernah marah, menangis, atau menentangnya.")


Cerita XVI: "Setengah Perempuan I"
Bintang: 9,1/10

Tidak menyangka kalau salah satu cerita akan seperti ini. Bukan favorit, tetapi aku sangat menyukainya.

Kalimat favoritku:
1. "Bagus untuk anak laki, yang satu individual sport untuk belajar kepercayaan diri, satunya team sport untuk belajar bekerja sama, begitu alasannya."
2. "Sambil bekerja, beliau bertanya apakah mereka suka di kelas 3 (no!), siapakah guru favorit mereka, siapakah guru favorit mereka (you!), mata pelajaran favorit (this!), ..."


Cerita XVII: "Setengah Perempuan II"
Bintang: 8,9/10

Di dalam cerita ini, terletak sebuah jawaban--atau kenyataan--yang dicari banyak orang. Untuk menyampaikan jawaban itu, aku tidak terpikir cara yang lebih baik dari yang dipakai dalam cerita ini.

Kalimat favoritku:
1. "Lydia memutuskan untuk tidak mengkonfrontasi ibu mertuanya karena bila si ibu menyangkal, Kliwon tidak bisa diandalkan sebagai saksi."
2. "Beberapa anak berteriak, melengking, menangis sambil berdiri berpegangan di pagar ranjang, sebagian melonjak-lonjak gembira melambai-lambaikan tangan, beberapa anak yang dekat dengan di mana Lydia berdiri berusaha menarik baju, lengan, atau tasnya."
3. "Bedanya, perempuan tua itu walaupun bangga menjadi perempuan utuh, sangat kesepian."


Cerita XVIII: "Kau Tak Berhak Akan Dia"
Bintang: 8,5/10

Aku agak kurang tenang saat membaca karena bertanya-tanya, "Siapa orang-orang tak bernama itu?" Ketika akhirnya tahu, semuanya jadi jelas dan kisah ini jadi lebih dalam dari yang kukira.

Kalimat favoritku:
1. "Di atas air, pekik dan tawa kanak-kanak serta dewasa menggelinding dan mengambang sementara tangisan dan bujukan berpantulan di atas gelombang-gelombang kecilnya. Di bawah air, kudengar hentakan nafas yang berkejar-kejaran dengan detak jantung, semuanya milikku sendiri."
2. "Masa depanku kutinggalkan di belakang seperti membuang sampah ke luar jendela dari dalam bis dan aku melaju di dalamnya tanpa tujuan."
3. "Kupu-kupu, hati, awan, layang-layang tergambar dengan garis-garis gerigi dan gelombang, tak ada yang lurus. Ibuku bilang, tandanya mereka hidup, bergerak."


Cerita XIX: "Dinda Bukan Puisi"
Bintang: 8,9/10

Apa tujuan pernikahan?

Kalimat favoritku:
"Apa yang aku rasakan, kau bisa tahu, tapi tak mau."


Cerita XX: "Telpon dari Luar Negeri"
Bintang: 9,4/10

Menyedihkan sekali, rasanya pengen nangis. Semoga nantinya anak ini benar-benar bisa lupa ....

Kalimat favoritku dari favorit kedua:
1. "Silau kami dibuatnya, tergopoh Mama menggotong jemuran ke taman seperti seserahan kepada matahari."
2. "Darah mengalir deras di sekujur tubuhnya sampai jantungnya berdebur, wajahnya merona, kedua matanya membesar dan mulutnya terbuka seakan begitu banyak yang ia ingin katakan."
3. "Betapa besar ego orang ini! ... Kurangkah segala keberuntungan dan berkat yang telah ia terima dalam hidupnya sampai ia masih mau mempersoalkan kegagalan romansa jaman kuliah? ... Sebelum lelaki itu menutup telpon, ia mengumumkan bahwa gajinya 20.000 poundsterling per bulan. Mama langsung banting telpon."
4. "Tak akan ada yang tahu tentang telpon-telpon itu selain aku yang tersembunyi dalam perut Mama."


Cerita XXI: "Rose"
Bintang: 9,1/10

Cerita yang harus ditulis dengan sangat hati-hati.

Kalimat favoritku:
1. "Senang ketika menang, sedih kala kalah."
2. "... Rosminah, kenapa kau memilih nama selai untuk anakmu? ..."


Cerita XXII: "Kolokan"
Bintang: 9,3/10

Mengalir dan mengena sekali. Aku masih pengen baca cerita-cerita seperti ini lagi, tetapi sayang, bukunya sudah hampir selesai.

Kalimat favoritku:
1. "Tak pernah seumur hidup, Cahyo menyetir seakan hidupnya sekaligus berharga dan murah pada saat yang bersamaan."
2. "Anaknya yang pertama dan utama sudah selayaknya minta perhatian dan pengertian tapi bertahun-tahun ia abaikan karena tuntutan hidup yang berbagai rupa dengan alasan tanggung jawab dan cinta."


Cerita XXIII: "Dua Perempuan di Satu Rumah"
Bintang: 9,6/10

Penutup yang apik. Aku jadi merasa puas karena akhirannya tidak mengganjal. Buku ditutup di atas gambaran seorang wanita bertekuk lutut sambil meraung.

Kalimat favoritku:
1. "Enam bulan kemudian, Norman dimakamkan di samping kedua orangtuanya dan Siska merasa dipisahkan dari Kehidupan."
2. "Kakinya dingin menapak keramik yang sudah ada sejak rumah ini berdiri."
3. "Siska ingin makan kerupuk itu namun tak sanggup mendengar kriuk kriuk yang akan terdengar senyaring dan serenyah ingatannya yang segar pada Norman."
4. "... dan Norman yang remuk di jalan tol tanpa ada sisanya buat Siska."
5. "Siapa yang lebih rindu kepada Norman sekarang ia tiada? Dan yang lebih mendesak, siapa yang lebih memiliki Norman? Apakah pertanyaan-pertanyaan ini penting dan perlukah ..."
6. "Siska tak bisa menerima kenyataan bahwa perempuan ini bahkan menyimpan sisa terakhir kemanusiaan Norman yang tak sanggup ia lihat di rumah sakit karena keburu semaput."
7. "Baru kali ini saja, ia merasakan kecemburuan tak tepermanai, justru setelah Norman pergi. Tak lagi mampu menyerang, Siska bertekuk lutut dan tersedu."



Menurutku, buku ini cocok buat kalian yang ingin mengerti lebih dalam tentang keluarga, parenting, dkk.

Cerita-ceritanya harus dibaca setidaknya dua kali untuk bisa dipahami dan dimaknai serta diambil amanatnya, lalu dipahami sindirannya ....

Akhir kata, Cyntha Hariadi sepertinya penggemar berat Tennesse Williams!

Tidak ada komentar

Feel free to post a comment :)